Renungan 6 tahun pasca kemahasiswaan

Oktober ini menandakan sudah 6 tahun lebih sejak pertama kali aku ditahbiskan sebagai mahasiswa.
Beradasarkan kalender akademik kampus, bulan ini juga menjadi batas terakhir untuk masa studi angkatanku, angkatan 2012.
Melihat keaadaanku sekarang, perasaanku campur aduk.

Perasaan pertama. Perasaan sedih.
Pelajaran tentang kehilangan, kefanaan, dan perbedaan individual.
Kalian masuk bersama, tapi lulus nya belum tentu bersama-sama. Banyak variabel mempengaruhi, dan dari saat-saat seperti ini perjalanan kehidupan dewasa aku dan kawan-kawanku mulai dibedakan. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita dan kawan-kawan tidak mungkin selalu bersama.

Seperti ungkapan, tak ada pertemuan tanpa perpisahan. Kehidupan akan menempa jalannya masing-masing untuk setiap individu. Tak ada dua individu pun di dunia ini yang akan memiliki jalan hidup yang sama, tak terkecuali pinang yang dibelah dua.

Kau menghabiskan banyak waktu bersama dengan kawanmu semasa kuliah. Tertawa bareng, seru-seruan bareng, nongkrong bareng. Kalian merasa akrab dan merasa takkan melepaskan momen itu. Tapi tunggu hingga saatnya datang. Entah kawanmu lulus duluan atau kau lulus duluan. Ataupun kalian lulus bersama-sama dan berpencar bagaikan kawanan gajah yang diancam oleh singa-singa di padang rumput. Atau bahkan kau atau kawanmu tidak pernah lulus.

Terkadang sedih memang kalau terlalu dipikirkan.
Tapi inilah hidup, hidup yang mengharamkan kekekalan dan mengkodratkan keunikan bagi setiap individu.

Kemudian, ada juga perasaan cemas, bercampur bingung.
Ya, bingung. Kuliah sudah. Umur pun ikut bertambah. Sekarang bingung mau ngapain lagi.
Sejarah mayoritas menggariskan untuk menjadi manusia 9 to 5, tapi kenaifanmu menganggap bahwa kau punya pilihan.
Sampai akhirnya kau pun jadi cemas karena kebingungan yang berlarut-larut.

Tapi akhirnya kau sampailah pada perasaan yang terakhir.
Kau simpulkan bahwa keadaanmu tidak seburuk yang kau kira.
Masih ada alasanmu untuk bersyukur sewaktu kau kilas teman-temanmu yang dijamin tak akan pernah sarjana itu.

‹ back